
TIM NERD
Tim and Nerd are the oldest pair, they act like an older sibling should, calm, reserve and always looking for the others.
They both had no face, they only had some holes in their face, its disgusting so they wear mask to cover it.
They can read minds and talk to anyone directly to their mind.
Tim are wearing old white opera mask while Nerd wearing a gas mask. Nerd bring a tank of C11H26NO2PS, a chemical toxic which surprisingly good for them.
They are wearing classic themed suit, all in white. They're born in summer
Ingatan pertamaku tentang dunia ini adalah lab yang penuh mesin dan mereka yang penuh harap. “semoga kali ini berhasil”, kata mereka yang menyebut dirinya Dokter. Aku mendengar suara mereka, namun aku sendiri tidak dapat mendengar suaraku. Yang keluar dari mulut kecil ini hanya bunyi-bunyian. Ada masalah dengan tenggorokanku, bentuk mulutku yang tak punya bibir dan lubangnya yg terlalu kecil. Mataku tidak selebar mereka. Bola mataku mencuat keluar dari lubang yang terlalu kecil, mengedipkan mata akan menggerakkan seluruh otot di wajahku, termasuk menarik lubang hidung dan mulut kecilku. Mereka memberikanku topeng untuk meminimalisir masuknya cahaya. Tisu ototku juga ternyata lebih rapuh dari mereka. Obat tetes mata, vitamin dan antibodi menjadi makanan rutin harianku. Melewati hari ke-delapan di hidupku, para Dokter bergembira. Mereka bilang belum ada yang pernah bertahan lebih dari tujuh hari sebelumnya. Mereka memberi kami tabung besar berisi gas khusus untuk dihirup. Gas itu adalah gas yang selama ini mereka berikan pada kami. Dokter berkata VX tidak memberi efek baik untuk mereka, jadi mereka ingin meminimalisir kontak mereka dengan cara meminta kami menghirup gas itu setiap hari. Bukannya aku tidak merasa lelah dengan semua itu, memang itu yang aku butuhkan. Aku lebih lelah bila harus diam terus diatas meja operasi. “maintenance” harian ini tidak memakan waktu lama, hanya 3 atau 4 jam. Setelahnya, aku bebas melakukan apapun. Lagipula aku tidak sendirian, Nerd ada bersamaku, selalu. Pertama kali aku mengerti kata-kata, aku mengucapkannya dalam hatiku. Entah bagaimana, Nerd bisa merespon perkataanku. Begitupun Nerd, perkataan Nerd dapat ku dengar dalam kepalaku. Aku mencoba berkomunikasi dengan para Dokter di sesi berikutnya. Para Dokter terkejut bukan kepalang, mereka semua berhenti melakukan apa yang sedang mereka lakukan lalu menatap satu sama lain. Berbagai tes dilakukan untuk menguji hal yang mereka sebut telepati. Ternyata telepatiku hanya dapat didengar dalam radius tertentu. Sejak saat itu komunikasi kami semakin lancar, maintenance pun menjadi lebih mudah karena kami dapat mengatakan langsung efek apa yang kami rasakan. Bulan pertama terlewat, mereka membawa kami ke sebuah ruangan besar dengan sekat-sekat di dalamnya. Mereka ingin kami akan tinggal disana untuk seterusnya. Pada bagian atas ruangan terdapat dome kaca besar yang cukup tinggi, namun tidak terlalu tinggi untuk telepati kami, kami masih dapat mendengar suara mereka. Setelah bulan ketiga, mereka memasang sebuah conveyor belt. Semua makanan, minuman, obat, pakaian ganti dan kebutuhan kami lainnya diberikan melalui alat itu. Tidak perlu ada lagi kontak fisik dengan mereka. Hanya check up beberapa hari sekali melalui telepati, sangat praktis. Berkurangnya kontak dengan mereka juga mengurangi polusi suara yang kami dengar, kami tidak terlalu sering mendengar suara-suara tidak mengenakan dari benak mereka lagi. Dunia yang tenang ini hanya milik kami berdua, aku dan Nerd.
Sejak pindahnya kami ke dome, hidupku lebih bahagia. Setiap pagi aku bangun oleh sapaan Tim, tanpa mendengar suara keluhan atau dengungan mesin. Rutinitas pagi kami dimulai dengan bersamaan menghirup gas yang mereka sebut VX, gas yang hanya berefek baik untuk kami. Selanjutnya adalah makan, makanan akan datang melalui sebuah belt. Kami tidak memiliki bagian yang mereka sebut gigi, well... ada, tapi ukuran kecil dan lokasinya tidak membantu kami makan dengan baik, jadi makanan yang datang hanya berupa cairan. Makanan akan datang tiga kali sehari, pagi, siang dan sore. Kemudian saling membersihkan diri, membasuh satu sama lain dengan kain dan cairan khusus, untuk kemudian dibilas dengan air. Setelah itu, kami bebas melakukan apapun. Tim senang menonton pertunjukan opera yang ada di TV, bukan, lebih tepatnya, hanya pertunjukan opera saja yang terus dimainkan di TV. Kadang dia “membaca” buku penuh gambar yang tersedia di salah satu rak. Aku tidak yakin apakah dapat disebut membaca karena aku mendengar Dokter berkata kami tidak bisa membaca. Bukan kami tak berusaha, namun terlalu banyak huruf dan kombinasi kata yang harus kami pelajari, untuk apa semua itu kalau kami bisa melihat, bicara dan mendengar. Sedangkan aku lebih senang bermain dengan alat musik, atau mendengarkan radio. Alunan nada kadang menggiring kami menggerakkan tubuh. Tidak jarang Dokter melihat kami dari atas dome, menertawakan tarian kami yang mereka sebut aneh. Apa peduliku, Tim ada di depanku dan kami hidup dengan bahagia, bukankah itu yang terpenting? Ada saat dimana aku merasa panas karena mendengar ejekan mereka, tapi Tim mengingatkan bahwa mereka datang dan pergi sedangkan kami selalu ada untuk satu sama lain. Baik di dalam hati maupun perilakunya, Tim yang terbaik. Hari-hari kami di dalam lab adalah yang paling menyakitkan, mereka memberi kami banyak suntikan. Mereka paling suka menyuntik bagian di antara tulang kami, katanya karena tulang dan persendian kami terlalu rapuh. Mana mereka peduli dengan rasa sakitnya. Tidak jarang bagian dari tubuh kami dikupas untuk disembuhkan kembali, dipotong, lalu disembuhkan kembali. Luka jahitan sudah memenuhi seluruh tubuhku. Berapa kalipun aku berteriak kesakitan, tidak ada yang mendengarku. Aku mengerti bila mereka tak melihat air mataku, terlalu banyak lendir aneh keluar dari wajahku untuk menyamarkan warna bening air mata. Dalam semua episode menyedihkan tersebut, Tim yang selalu ada. Dia tidak banyak bicara, hanya menatap dan memegang tanganku, memberiku kekuatan. Padahal dia merasakan hal yang sama, namun Tim selalu bisa menjadi lebih kuat. Dia satu-satunya yang berharga untukku. Aku harap maut menjemputku duluan nanti, aku yakin aku tak akan bisa bertahan tanpa Tim.










